Minggu, 18 Januari 2015

Malaikat Kecil di Surga

Memiliki baby bagi para pengantin baru adalah sebuah karunia yang tiada tara, tapi apakah semua itu bisa didapat lancar lanca aja? Jawabannya adalah tidak. Ketika gw dikatakan positif hamil, gw sangat girang banget, secara gw pengen banget punya babies yang lucu -lucu. Hanya saja sayangnya Tuhan berkata lain. Tuhan belum mengizinkan gw untuk memiliki baby. Tuhan hanya menunda kok kedatangan si baby, mungkin karna memang gw belum siap dari segi mental maupun finansial. Yah ambil positifnya saja lah.

Sedih? Tentu sangat sedih walah belum terbentuk janin, orang tua mana yang ga sedih kalau keguguran.padahal baru saja memasuki bulan ke 4 kehamilan, tapi sang baby harus terpaksa dikeluarkan dari rahim gw. pendarahan yang terjadi jumat, 17 Januati 2015 itu cukup membuat gw panik setengah mati. Sempat mencoba berfikiran positif dulu,"mungkin gw kecapean makanya pendarahan." Namun, setelah gw rasa badan gw makin ga enak dimana perut bawah gw keram banget, ditambah lagi nyeri pingganh yang begitu hebat. Sampai pada akhirnya gw memutuskan untuk tidak pulang dari kantor dulu sampai dijemput oleh suami gw.

Malam itu gw ditemani oleh teman gw, mba eva, selama menunggu suami datang. Gw mencoba untuk berbaring sejenak dilantai kantor berharap sakitnya akan berkuran, tapi rasa sakit itu tak kinjung hilang. Tentunya gw semakin panik malam itu. Gw coba untuk minta izin manager suami gw agar dia diizinkan pulang lebih awal untuk menjempit gw ke menara BCA Lt. 18 karna pendarahan. Ok selang 1 jam akhirnya suami w datang. Saking paniknya suami gw sampai salah masuk lift. Dia datang melalui lift barang, entahlah mungkin dia panik dan bingung harus lewat lift mana. 

Awalnya gw ingin memutuskan untuk ke rumah sakit di Jakarta, namun gw rasa badan gw masih kuat untuk ke Rs atau bidan di Cilebut. Akhirnya gw memutuskan untuk memberhentikan taxi dan perhi ke stasiun sudirman. Sesampainya di Cilebut gw langsung ke bidan tapi sayangnya kedua bidan yang gw kunjungi tidak memiliki fasilitas USG dan hanya menyarankan untuk ke Rs. Pasutri Bogor. Ok dengan rasa kecewa campur cemas akhirnya gw pulang ke rumah saja dulu dan memutuskan untuk ke rumah sakit besok pagi. Dengan berbagai pertimbangan dan saran dari beberapa orang disekeliling suami, kita memutuskan untuk ke Rs. Salak atau Rs. Hermina. 

Sesampainya di IGD Rs. Salak tepatnya pukul 09:00, gw langsung menemui dokter jaga. Sang dokter hanya bilang kalau tidak ada bidan yang haga dihari saat weekend jadi harus rawat terlebih dahulu kemungkinan senin baru di lakukan tindakan sekaligus USG. pada waktu yang bersamaan jg gw bilang kalau gw mau menggunakan fasilitas BPJS kelas 1. Segera si dokter menghubungi  ruang rawat inap. Entah permainan rumah sakit atau memang benar kalau semua ruang inap kelas 1 dan 2 saat itu penuh semua ya intinya kalau mau nginep ya dikelas 1. Dengan muka ragu, akhirnya sang dokter melanjutkan, "kalau meman darurat mending ibu ke rumah sakit Hermina saja. Disana rumah sakit khusu ibu dan anak jadi seharusnya fasilitas lengkap dan dijamin pasti ada dokternya 24 jam, selain itu pas ruang inapnya juga lebih banyak."

Dengan secepat mungkin kami berdua menuju Rs. Hermina Bogor. Sesampainya disana dokter maupun suster dengan cepat menangani gw. Hati terhenyuh ketika dokter USG gw karna beliau berkata dengan berat hati rahim ibu harus kami bersihkan which is baby yang ada dirahim harus dikeluarkan jg. Menurut dokter pendarahan yang keluar karna rahim menganggap janin yang ada sebagai benda asing. Rahim belum siap untuk dibuahi. Kalaupin dipaksa, sang janin ga akan berkembang. Sebelum terjadi pendarahan hebat, dokter memutuskan untuk melakuka  kuret di keesokan harinya. Gak tega rasanya harus kehilangan calon babu yang slama ini gw idamkan, tapi mau dikata apa, memang kenyataan seperti ini yang harus dihadapi. 

Suami pun selalu berkata sabar mungkin belum saatnya kita punya baby. Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian kok. Allah maha tahu apa yang terbaik bagi umatnya. Ok ikhlaskan semua yang ada, nanti setelah 3 bulan kita coba pelan pelan lagi bikin dedek. Dengan kejadian ini gw pun makin yakin kalau gw gak salah pilih suami. Dia yang paling repot sana sini urus admin rumah sakit dan ngurus diri gw yang saat itu merintih kesakitan dibagian perut. Belum lagi dia yang repot saat gw pendarahan hebat sekitar jam 4 pagi. Tidur kurang bahkan makanpun dia kurang, tapi yang pasti gw makin sayang sama suami gw itu. 

Oprasi kuret pun dilakukan dipagi hari sekitar jam 7. Dokter hanya membawakan sebungkus darah merah segar yang di dalamnya ada gumpang calon janin gw. Andai saja janin itu bisa diselamatkan,pasti dia akan menjadi baby yang paling lucu dan menggemaskan.






Kamis, 08 Januari 2015

Ujian Awal

Kalau kata orang sekeliling gw "kalau kamu sudah siap menikah, kamu harus siap menerima banyak cobaan didalam menjalani rumah tangga. Seberat apapun ujian itu, kamu harus bisa menyelesaikannya berdua." Benar saja, baru menjalani rumah tangga berapa hari, sudah ada cobaan untuk kita berdua, ya lebih nyeseknya sih buat gw. Berkat kegigihan laki gw yang pengen banget mengadakan pesta pernikahan dengan bermodalkan NEKAT, akhirnya benar saja uang yang sudah dipersiapkan ternyata masih saja kurang.

Banyak banget yang harus dibayar setelah pesta berakhir, Mulai dari biaya masak, tenda sampai make up. Semua itu membuat kepala pusing banget, karena tamu yang dateng dikit which is angpao yang didapet juga sedikit dong. Awalnya sempet kesel juga sih sama suami, lagian udah tau duit pas - pasan, ngapain juga maksa untuk ngadain pesta. Kalau akhirnya kayak begini mending akad aja kan.

Gak guna juga sih hanya menyesali, semua sudah berlangsung dan kedepannya kita haru membayar semua biaya - biaya tersebut, belum lagi bayar utang sama orang lain. Emang sih nomboknya enggak gede banget, ya sekitar 4 jutaan lah, tapi yang namanya gak megang uang sama sekali, 4 juta mah gede banget. Mana akhir bulan harus bayar kartu kredit 2 jutaan kan. Fine, ini masalah awal yang memang harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya bersama.

Dengan berat hati gw harus merelakan uang tabungan sebesar 2 juta yang tadinya untuk bayar kartu kredit + uang tabungan gw untuk mencukupi sisa kehidupan gw dikantor satu bulan kedepan. Duit dari kedua simpenan gw itupun ternyata masih belum bisa menutupi semua utang yang memang harus dibayar esok harinya. Dengan hati yang terasa seperti tersayat - sayat gw pun akhirnya memutuskan untuk memberikan cincin mas kawin yang gw punya ke suami gw. Ikhlas? tentu tidak semudah itu, secara baru seminggu lalu cincin itu disematkan dicari manis kanan gw. Suami pun sebenarnya tidak tega untuk menjual cincin itu ditambah lagi dia melihat gw menangis ketika melepaskan cincin itu untuk digadaikan.

Bismillah, jika memang cincin itu rejeki gw, kelak gw akan memilikinya lagi atau mungkin gw akan mendapatkan yang lebih baik dari cincin itu.


Sabtu, 03 Januari 2015

Tahun Baru Status Baru

Gak pernah terlintas dibenak gw kalau akhir tahun 2014 adalah akhir dari status dengan pacar gw yang slama ini udah sama gw selama 5 tahun. Eits, gw gak sedih dengan berakhirnya status gw tersebut, malahan boleh dibilang gw bahagiaaaaa banget dengan berakhirnya status berpacaran gw itu. Kenapa? Karena dipenghujung tahun 2014 gw telah melangsungkan pernikahan dengan mantan pacar gw itu. Alhamdulillah banget akhirnya udah bisa jadi istri dari Irwan Afandi.

Akhir tahun 2014 pun gw jalani dengan suami gw itu. Meskipun gak kesampean mau malam tahun baruan di Yogya karena dana kita udah habis untuk resepsi pernikahan kita, gw tetep seneng banget. Malam tahun baru kali ini gw rayakan di Bogor. Cukup dengan melihat indahnya langit kota Bogor yang dihiasi oleh berbagai jenis kembang api dan ditemani oleh nasi bakar, rasanya tuh udah amazing banget guys. "sekarang udah gak ada yang ngomelin lagi kalau kita keluar malam, bahkan kalau ga pulang ke rumah juga gak ada yang ngomel nda," gurau Bang Iwan.

Yah, selama berpacaran mana pernah kita pacaran sampe larut malam, jadi wajar ajah kalau sekarang kita semacam "balas dendam" karena dulu gak bisa keluar malam hehehe.
Satu hal yang masih suka agak canggung adalah saat bangun tidur. Biasanya yang ada di samping gw adalah emak gw, tapi sekarang udah ada lelaki yang sangat gw sayang selama ini. Awal tahun 2015 yang indah, gw berharap tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, bahkan gw berharap tahun ini ada peri kecil yang bisa mewarnai hidup kita berdua.  Semoga suami gw ini adalah suami terbaik yang memang disiapkan Tuhan untuk gw seorang.

Thanx God for everything that you've given to me...




The Missing Soulmate


This is Awesome!!!
Thanx God that I finally found my real soulmate.
140310 - 191214

Setelah hampir 5 tahun bersama dengan pria satu ini, Tuhan mengizinkan kita untuk bersatu dalam sebuah ikatan tali pernikahan yang suci. Meskipun Ibu aku masih berkeras hati untuk tidak merestui kita, hanya ucapan Bismillah yang bisa kita hanturkan untuk mengarungi mahligai rumah tangga.

Sempat berfikiran kok bisa ya seorang Ibu tidak menghadiri pernikahan anaknya sendiri. Well, memang itu hak beliau untuk datang atau tidak ke acara pernikahan kami. Yasudah, tidak perlu diperpanjang masalah ini. Kalau ditanya perasaan sebagai anak sih kalau boleh jujur kecewa banget sama Ibu sendiri dengan keputusan beliau tersebut tapi disisi lain gw merasa bahagia juga karena ternyata Tuhan mengizinkan kami untuk bersatu.

Sempat ada kekhawatiran yang mendalam " jangan - jangan dia bukan jodoh gw nih, pacaran udah bertahun - tahun ujungnya putus, amit - amit." Untung saja kekhawatiran itu tidak terjadi. Insya Allah gw yakin dia adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap gw dan anak - anak gw kelak.

Meskipun mama tidak berkenan menghadiri akad maupun resepsi gw, masih ada keluarga lain yang menyempatkan untuk hadir dan yang paling penting adalah kehadiran sahabat - sahabat gw. Makasih banyak buat sahabatku  Oji yang udah dateng akad maupun resepsi, Ncha, Irna, Ica Minori, dan Dyra. Begitupun teman - teman lainnya yang udah menyempatkan diri datang jauh - jauh ke Bogor dengan kondisi cuaca yang hujan ringan.

Ini bukanlah akhir dari perjalanan cinta kita berdua, namun inilah awal dimulainya perjalanan kisah cinta kita. Hanya satu doaku : Tuhan, atas izinMu kita bersatu, maka atas KuasaMu jugalah kami nanti berpisah. Jika memang kita harus berpisah, aku berharap hanya maut saja yang mampu memisahkan kita berdua kelak. Aku sangat mencintai lelaki ini dan aku berharap dia pun begitu terhadap diriku.

Nb : Maaf jika ada foto sahabat lainnya yg belum bisa diupload di sini.