Memiliki baby bagi para pengantin baru adalah sebuah karunia yang tiada tara, tapi apakah semua itu bisa didapat lancar lanca aja? Jawabannya adalah tidak. Ketika gw dikatakan positif hamil, gw sangat girang banget, secara gw pengen banget punya babies yang lucu -lucu. Hanya saja sayangnya Tuhan berkata lain. Tuhan belum mengizinkan gw untuk memiliki baby. Tuhan hanya menunda kok kedatangan si baby, mungkin karna memang gw belum siap dari segi mental maupun finansial. Yah ambil positifnya saja lah.
Sedih? Tentu sangat sedih walah belum terbentuk janin, orang tua mana yang ga sedih kalau keguguran.padahal baru saja memasuki bulan ke 4 kehamilan, tapi sang baby harus terpaksa dikeluarkan dari rahim gw. pendarahan yang terjadi jumat, 17 Januati 2015 itu cukup membuat gw panik setengah mati. Sempat mencoba berfikiran positif dulu,"mungkin gw kecapean makanya pendarahan." Namun, setelah gw rasa badan gw makin ga enak dimana perut bawah gw keram banget, ditambah lagi nyeri pingganh yang begitu hebat. Sampai pada akhirnya gw memutuskan untuk tidak pulang dari kantor dulu sampai dijemput oleh suami gw.
Malam itu gw ditemani oleh teman gw, mba eva, selama menunggu suami datang. Gw mencoba untuk berbaring sejenak dilantai kantor berharap sakitnya akan berkuran, tapi rasa sakit itu tak kinjung hilang. Tentunya gw semakin panik malam itu. Gw coba untuk minta izin manager suami gw agar dia diizinkan pulang lebih awal untuk menjempit gw ke menara BCA Lt. 18 karna pendarahan. Ok selang 1 jam akhirnya suami w datang. Saking paniknya suami gw sampai salah masuk lift. Dia datang melalui lift barang, entahlah mungkin dia panik dan bingung harus lewat lift mana.
Awalnya gw ingin memutuskan untuk ke rumah sakit di Jakarta, namun gw rasa badan gw masih kuat untuk ke Rs atau bidan di Cilebut. Akhirnya gw memutuskan untuk memberhentikan taxi dan perhi ke stasiun sudirman. Sesampainya di Cilebut gw langsung ke bidan tapi sayangnya kedua bidan yang gw kunjungi tidak memiliki fasilitas USG dan hanya menyarankan untuk ke Rs. Pasutri Bogor. Ok dengan rasa kecewa campur cemas akhirnya gw pulang ke rumah saja dulu dan memutuskan untuk ke rumah sakit besok pagi. Dengan berbagai pertimbangan dan saran dari beberapa orang disekeliling suami, kita memutuskan untuk ke Rs. Salak atau Rs. Hermina.
Sesampainya di IGD Rs. Salak tepatnya pukul 09:00, gw langsung menemui dokter jaga. Sang dokter hanya bilang kalau tidak ada bidan yang haga dihari saat weekend jadi harus rawat terlebih dahulu kemungkinan senin baru di lakukan tindakan sekaligus USG. pada waktu yang bersamaan jg gw bilang kalau gw mau menggunakan fasilitas BPJS kelas 1. Segera si dokter menghubungi ruang rawat inap. Entah permainan rumah sakit atau memang benar kalau semua ruang inap kelas 1 dan 2 saat itu penuh semua ya intinya kalau mau nginep ya dikelas 1. Dengan muka ragu, akhirnya sang dokter melanjutkan, "kalau meman darurat mending ibu ke rumah sakit Hermina saja. Disana rumah sakit khusu ibu dan anak jadi seharusnya fasilitas lengkap dan dijamin pasti ada dokternya 24 jam, selain itu pas ruang inapnya juga lebih banyak."
Dengan secepat mungkin kami berdua menuju Rs. Hermina Bogor. Sesampainya disana dokter maupun suster dengan cepat menangani gw. Hati terhenyuh ketika dokter USG gw karna beliau berkata dengan berat hati rahim ibu harus kami bersihkan which is baby yang ada dirahim harus dikeluarkan jg. Menurut dokter pendarahan yang keluar karna rahim menganggap janin yang ada sebagai benda asing. Rahim belum siap untuk dibuahi. Kalaupin dipaksa, sang janin ga akan berkembang. Sebelum terjadi pendarahan hebat, dokter memutuskan untuk melakuka kuret di keesokan harinya. Gak tega rasanya harus kehilangan calon babu yang slama ini gw idamkan, tapi mau dikata apa, memang kenyataan seperti ini yang harus dihadapi.
Suami pun selalu berkata sabar mungkin belum saatnya kita punya baby. Selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian kok. Allah maha tahu apa yang terbaik bagi umatnya. Ok ikhlaskan semua yang ada, nanti setelah 3 bulan kita coba pelan pelan lagi bikin dedek. Dengan kejadian ini gw pun makin yakin kalau gw gak salah pilih suami. Dia yang paling repot sana sini urus admin rumah sakit dan ngurus diri gw yang saat itu merintih kesakitan dibagian perut. Belum lagi dia yang repot saat gw pendarahan hebat sekitar jam 4 pagi. Tidur kurang bahkan makanpun dia kurang, tapi yang pasti gw makin sayang sama suami gw itu.





