Nama gw Melvy. Gw adalah salah satu orang yang sangat berkeinginan untuk bisa pergi ke Jerman semenjak SMA, tapi mungkin keberuntungan belum datang ke gw. Salah satu alasan kenapa gw pengen banget pergi ke Jerman adalah gw ingin merasakan salju. Memang hampir di seluruh belahan Eropa kita bisa merasakan salju, tapi salah satu negara yang gw tahu ketika gw kecil memiliki musim salju adalah Jerman, so keinginan dari kecil itulah yang membawa gw sampai saat ini ingin pergi ke Jerman. Pergi ke Jerman bukanlah mudah, terlebih mengenai biaya. Seseorang yang ingin kesana membutuhkan banyak biaya, belum lagi biaya hidup disana yang terbilang mahal. Ketika musim salju pun tentu kita membutuhkan biaya untuk membeli baju musim dingin dan biayanyapun tidak murah.
Untuk mencari jalan menuju Jerman, gw berusaha untuk mempelajari bahasa dari negara tersebut. Kebetulan SMA gw memberikan tambahan pelajaran bahasa asing selain bahasa Inggris, yaitu bahasa Jerman dan bahasa Jepang. Gw adalah salah satu murid yang pada saat itu memiliki nilai yang baik untuk bahasa Jerman. Jujur saja untuk mempelajari bahasa Jepang, gw kurang paham dan menurut gw sulit sekali. Selama belajar bahasa Jerman di SMA, gw pun diperlihatkan gambaran mengenai negara Jerman. Gambar-gambar itulah yang membuat gw semakin ingin sekali menginjakkan kaki di Jerman. Pemandangan alam yang indah, bersih, tata kota yang teratur dan tidak ada macet. Sayangnya gw hanya bisa melihat dari gambar saja, belum pernah melihat langsung keadaan disana secara langsung.
Menjelang kenaikan kelas 2 SMA, gw dilanda galau, ingin memilih kelas bahasa atau sosial. Setelah gw pikir matang-matang akhirnya gw memutuskan untuk mengambil kelas sosial. Kenapa gw ambil kelas sosial? karna dikelas sosial, gw masih bisa belajar bahasa Jerman tanpa harus ketakutan untuk menghadapi bahasa Jepang. Kalau gw masuk kelas bahasa, gw harus belajar bahasa Jerman dan Jepang secara mendetail. Mungkin kalau dikelas bahasa cuma ada bahasa Jerman dan Inggris, gw akan masuk kelas bahasa. Dikelas 2 pun nilai bahasa Jerman gw sangat baik, bahkan lebih bagus dari bahasa Inggris gw. Sayangnya sewaktu SMA gw tidak bisa mempelajari kebudayaan dan seni dari negara Jerman.
Semakin hari kemampuan bahasa Jerman gw semakin baik, begitupun ketika gw berada dikelas 3 SMA. Sampai pada ujian akhir pun nilai bahasa Jerman gw mencapai angka 9. Kegundahan pun muncul kembali ketika gw harus mengikuti ujian UMB tahun 2008. Gw bingung harus memilih jurusan apa. Gw mencoba untuk tes di sebuah Universitas Terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia. Pada saat itu jujur saja gw hanya coba-coba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri karena pada saat itu gw tidak mengikuti les untuk persiapan masuk perguruan tinggi dikarenakan keterbatasan biaya. Kebetulan di Universitas yang gw dambakan itu ada jurusan Sastra Jerman, jadi gw memutuskan untuk mengambil jurusan itu. Bodohnya lagi pilihan kedua gw pada saat itu adalah sastra Inggris di UNJ. Nyokap gw pengen banget gw ambil Sastra Inggris di UNJ, meskipun sudah gw jelaskan bahwa grade untuk masuk ke sastra Inggris UNJ lebih besar dari grade sastra Jerman UI. Pilihan "bunuh diri" itu akhirnya gw pilih. Logikanya adalah Jika gw tidak keterima di UI, otomats gw tidak keterima di UNJ. Berhubung gw anak yang pada saat itu nurut kata orang tua, jadi gw ikuti saja kemauan beliau.
Tanpa ada harapan apa-apa gw mengerjakan soal diawali dengan Bismillah. Kebetulan pada saat itu ada tawaran beasiswa dari UI disekolah gw. Guru BP gw menyarankan gw untuk ambil beasiswa tersebut karena gw masuk kualifikasi (ranking 5 besar). Pada awalnya gw menolak untuk mengurus beasiswa tersebut, tapi berkat dorongan teman terdekat gw, Rizka Listiyana dan Risa Pratiwi, akhirnya gw mendatangi ruang BP. Perkataan ibu guru gw pada saat itu masih sangat gw ingat, "telmi banget sih kamu, lusa semua dokumen harus dikirim ke UI, kenapa kamu tiba-tiba mau ngurus?kan sudah saya bilang, kamu urus saja, masalah keterima atau tidak di UI, urusan nanti saja". Dalah waktu satu hari, nyokap mengurus semua berkas untuk pengajuan beasiswa tersebut sampai pada akhirnya berkas-berkas gw diterima untuk di apply ke UI.
Kali ini keajaban Allah pun menghampiri hidup gw. Tanpa diduga dan disangka, gw keterima di UI untuk belajar bahasa Jerman. Sungguh tidak pernah terbayangkan dibenak gw, gw bisa kuliah di Universitas Indonesia. Suatu kebanggaan tersendiri ditengah keluarga gw. Kebahagiaan pun tidak sampai disitu, beasiswa yang gw urus dalam waktu satu hari pun di terima, gw berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Diantara puluhan orang di sekolah gw yang apply beasiswa, hanya gw dan teman gw saja yang berhasil mendapatkannya. Betapa Allah sayang terhadap gw. Mungkin ini adalah awal menuju negara Jerman.
Ada suka dan duka dalam menjalani masa kuliah. Ternyata bahasa Jerman itu tidaklah mudah. Tapi gw bertekad didalam diri gw, gw harus bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik. Gw berusaha jangan sampai gw tidak lulus untuk mata kuliah Bahasa Jerman. Dibilang bagus banget juga enggak sih nilai bahasa Jerman gw, tapi kata bagus mungkin lebih tepat menggambarkannya. Selama belajar di kampus ini, gw mendapatkan banyak hal mengenai negara Jerman, mulai dari kebudayaannya dimasa lalu, berbagai karya sastra dari pengarang-pengarang ternama di Jerman, musik, apresiasi film dan theater di Jerman, ilmu periklanan, dan masih banyak lagi. Semua itu membuat gw semakin penasarang untuk bisa pergi ke Jerman.
Dosen-dosen gw semuanya sudah pernah pergi ke Jerman, bahkan mungkin ada yang rutin setahun sekali kesana. Mungkin kalau gw terlahir dari keluarga yang kaya, gw akan minta untuk berkunjung ke Jerman. Cukup mendengarkan dosen-dosen gw bercerita tentang keadaan Jerman terkini aja gw udah senang. Salah satu dosen gw sering sekali menceritakan tengan sebuah jalan yang bernama Geisberg Strasse, selain itu juga sering menceritakan Sungai Rein yang kental dengan mitos dimasa lalunya. Kalau saja gw berkesempatan ke Jerman, gw ingin sekali mengunjungi kedua tempat tersebut.
Kalau berdasarkan steriotipe orang mengatakan bahwa orang Jerman sangat "dingin", namun hampir semua pengajar native gw sangat ramah bahkan royal sekali memberikan penilaian. Merekapun murah senyum, apa mungkin karena mereka berada di Indonesia? jadi mereka harus beradaptasi dengan penduduk Indonesia yang terkenal ramah di mata dunia? Untuk kasus ini gw pribadi tidak bisa menilainya, karena gw belum pernah ada di Jerman. Gw tidak pernah berinteraksi dengan penduduk di negara Jerman.
Begitu banyak pengetahuan gw tentang negara Jerman, namun sayang berbagai ilmu tersebut belum gw praktekkan secara langsung. Dulu sempat gw mengajukan beasiswa untuk ke Jerman bersama teman-teman gw, namun sayang harus putus ditengah jalan dikarenakan gw dan teman gw lainnya memutuskan untuk lulus 3,5 tahun. Mungkin memang kesempatan pergi ke Jerman belum ada ditangan gw saat ini. Mungkin saat ini juga sudah ada teman seperjuangan gw di UI yang sudah sampai di Jerman. Gw masih ingin berusaha untuk bisa pergi ke Jerman dengan cara apply beasiswa, atau mungkin melamar pekerjaan di kedutaan Jerman, namun tetap kesempatan itu belum berpihak ke gw. Kalau saja ada yang membiayakan gw pergi kesana mungkin satu minggu pun gw udah sangat bersyukuuuuuuuuuuur sekali, bahkan 3 hari juga tidak apa-apa :p
Jerman adalah tempat yang gw impikan selama ini. Jika memang gw tidak ada kesempatan sama sekali untuk pergi kesana, berarti Negara Jerman adalah nyata adanya sebagai mimpi. Mimpi seorang anak remaja yang ingin sekali pergi kesana :)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar