Sabtu, 11 Oktober 2014

Pengingkaran Hati

Katika seorang wanita tersakiti oleh kelakuan orang yang paling disayanginya, maka dia akan marah se marah marahnya. Enggan mendengar suaranya, melihat wajahnya bahkan menyebut namanya. Tapi apakah benar wanita itu sudah tidak menyayangi si lelaki itu lagi seutuhnya?

Tidak, sebesar apapun usaha gw untuk melupakan dan meninggalkan lelaki yang sudah menemani hidup gw hampir 4 tahun lebih itu sulit adanya. Tidak mudah bagi gw melupakan segalanya. Apa yang sudah kita alami, perjuangkan dan lakukan tidak sebanding dengan ego dan emosi sesaat yang kita rasakan satu hari itu. 

"Kali ini gw kecewa banget sama dia, gw harus lupain dia pokoknya. Bagaimanapun juga gw harus move on dan membuka hati gw untuk cowo lain di luar sana." Beberapa kalimat penyangkalan yang terlontarkan dari mulut gw tiap kali gw berantem sama doi. Iya itu hanya ucapan dibibir saja, tapi otak dan hati gw tidak mengatakan itu. 

"Udahlah Mel, masih banyak lelaki di luar sana yang mungkin jauh lebih baik dari cowo lo sekarang. Apa salahnya membuka diri dan lo harus bisa. Lagian nyokap lo ga setuju sama cowo lo skrg, mending lo bahagiain nyokap lo aja. Lupain dia." Sepenggal saran singkat dari beberapa orang terdekat gw mengenai hubungan gw. Thanx banget, gw tau kalian sayang sama gw, iya gw sakit tapi rasa sayang ini jauh lebih besar dari rasa sakit yang gw rasakan sekarang. Sampai kapanpun gw akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mama, tapi pilihan pasangan hidup tetap ada ditangan gw.

Mulut, hati dan otak gw memang sering gak singkron seperti ini, tapi yang pasti adalah gw sangat sayang lelaki ini dan gak pernah bisa pisah darinya. Dia yang bisa menerima gw apa adanya, menjadi diri gw sendiri dan membuat hati gw nyaman bila di sampingnya. I love you Irwan Afandi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar