Kamis, 25 Juli 2013

The Dreamer goes to Germany


Nama gw Melvy. Gw adalah salah satu orang yang sangat berkeinginan untuk bisa pergi ke Jerman semenjak SMA, tapi mungkin keberuntungan belum datang ke gw. Salah satu alasan kenapa gw pengen banget pergi ke Jerman adalah gw ingin merasakan salju. Memang hampir di seluruh belahan Eropa kita bisa merasakan salju, tapi salah satu negara yang gw tahu ketika gw kecil memiliki musim salju adalah Jerman, so keinginan dari kecil itulah yang membawa gw sampai saat ini ingin pergi ke Jerman. Pergi ke Jerman bukanlah mudah, terlebih mengenai biaya. Seseorang yang ingin kesana membutuhkan banyak biaya, belum lagi biaya hidup disana yang terbilang mahal. Ketika musim salju pun tentu kita membutuhkan biaya untuk membeli baju musim dingin dan biayanyapun tidak murah. 

Untuk mencari jalan menuju Jerman, gw berusaha untuk mempelajari bahasa dari negara tersebut. Kebetulan SMA gw memberikan tambahan pelajaran bahasa asing selain bahasa Inggris, yaitu bahasa Jerman dan bahasa Jepang. Gw adalah salah satu murid yang pada saat itu memiliki nilai yang baik untuk bahasa Jerman. Jujur saja untuk mempelajari bahasa Jepang, gw kurang paham dan menurut gw sulit sekali. Selama belajar bahasa Jerman di SMA, gw pun diperlihatkan gambaran mengenai negara Jerman. Gambar-gambar itulah yang membuat gw semakin ingin sekali menginjakkan kaki di Jerman. Pemandangan alam yang indah, bersih, tata kota yang teratur dan tidak ada macet. Sayangnya gw hanya bisa melihat dari gambar saja, belum pernah melihat langsung keadaan disana secara langsung. 

Menjelang kenaikan kelas 2 SMA, gw dilanda galau, ingin memilih kelas bahasa atau sosial. Setelah gw pikir matang-matang akhirnya gw memutuskan untuk mengambil kelas sosial. Kenapa gw ambil kelas sosial? karna dikelas sosial, gw masih bisa belajar bahasa Jerman tanpa harus ketakutan untuk menghadapi bahasa Jepang. Kalau gw masuk kelas bahasa, gw harus belajar bahasa Jerman dan Jepang secara mendetail. Mungkin kalau dikelas bahasa cuma ada bahasa Jerman dan Inggris, gw akan masuk kelas bahasa. Dikelas 2 pun nilai bahasa Jerman gw sangat baik, bahkan lebih bagus dari bahasa Inggris gw. Sayangnya sewaktu SMA gw tidak bisa mempelajari kebudayaan dan seni dari negara Jerman. 


Semakin hari kemampuan bahasa Jerman gw semakin baik, begitupun ketika gw berada dikelas 3 SMA. Sampai pada ujian akhir pun nilai bahasa Jerman gw mencapai angka 9. Kegundahan pun muncul kembali ketika gw harus mengikuti ujian UMB tahun 2008. Gw bingung harus memilih jurusan apa. Gw mencoba untuk tes di sebuah Universitas Terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia. Pada saat itu jujur saja gw hanya coba-coba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri karena pada saat itu gw tidak mengikuti les untuk persiapan masuk perguruan tinggi dikarenakan keterbatasan biaya. Kebetulan di Universitas yang gw dambakan itu ada jurusan Sastra Jerman, jadi gw memutuskan untuk mengambil jurusan itu. Bodohnya lagi pilihan kedua gw pada saat itu adalah sastra Inggris di UNJ. Nyokap gw pengen banget gw ambil Sastra Inggris di UNJ, meskipun sudah gw jelaskan bahwa grade untuk masuk ke sastra Inggris UNJ lebih besar dari grade sastra Jerman UI. Pilihan "bunuh diri" itu akhirnya gw pilih. Logikanya adalah Jika gw tidak keterima di UI, otomats gw tidak keterima di UNJ. Berhubung gw anak yang pada saat itu nurut kata orang tua, jadi gw ikuti saja kemauan beliau. 

Tanpa ada harapan apa-apa gw mengerjakan soal diawali dengan Bismillah. Kebetulan pada saat itu ada tawaran beasiswa dari UI disekolah gw. Guru BP gw menyarankan gw untuk ambil beasiswa tersebut karena gw masuk kualifikasi (ranking 5 besar). Pada awalnya gw menolak untuk mengurus beasiswa tersebut, tapi berkat dorongan teman terdekat gw, Rizka Listiyana dan Risa Pratiwi, akhirnya gw mendatangi ruang BP. Perkataan ibu guru gw pada saat itu masih sangat gw ingat, "telmi banget sih kamu, lusa semua dokumen harus dikirim ke UI, kenapa kamu tiba-tiba mau ngurus?kan sudah saya bilang, kamu urus saja, masalah keterima atau tidak di UI, urusan nanti saja". Dalah waktu satu hari, nyokap mengurus semua berkas untuk pengajuan beasiswa tersebut sampai pada akhirnya berkas-berkas gw diterima untuk di apply ke UI. 

Kali ini keajaban Allah pun menghampiri hidup gw. Tanpa diduga dan disangka, gw keterima di UI untuk belajar bahasa Jerman. Sungguh tidak pernah terbayangkan dibenak gw, gw bisa kuliah di Universitas Indonesia. Suatu kebanggaan tersendiri ditengah keluarga gw. Kebahagiaan pun tidak sampai disitu, beasiswa yang gw urus dalam waktu satu hari pun di terima, gw berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Diantara puluhan orang di sekolah gw yang apply beasiswa, hanya gw dan teman gw saja yang berhasil mendapatkannya. Betapa Allah sayang terhadap gw. Mungkin ini adalah awal menuju negara Jerman. 


Ada suka dan duka dalam menjalani masa kuliah. Ternyata bahasa Jerman itu tidaklah mudah. Tapi gw bertekad didalam diri gw, gw harus bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang baik. Gw berusaha jangan sampai gw tidak lulus untuk mata kuliah Bahasa Jerman. Dibilang bagus banget juga enggak sih nilai bahasa Jerman gw, tapi kata bagus mungkin lebih tepat menggambarkannya. Selama belajar di kampus ini, gw mendapatkan banyak hal mengenai negara Jerman, mulai dari kebudayaannya dimasa lalu, berbagai karya sastra dari pengarang-pengarang ternama di Jerman, musik, apresiasi film dan theater di Jerman, ilmu periklanan, dan masih banyak lagi. Semua itu membuat gw semakin penasarang untuk bisa pergi ke Jerman. 

Dosen-dosen gw semuanya sudah pernah pergi ke Jerman, bahkan mungkin ada yang rutin setahun sekali kesana. Mungkin kalau gw terlahir dari keluarga yang kaya, gw akan minta untuk berkunjung ke Jerman. Cukup mendengarkan dosen-dosen gw bercerita tentang keadaan Jerman terkini aja gw udah senang. Salah satu dosen gw sering sekali menceritakan tengan sebuah jalan yang bernama Geisberg Strasse, selain itu juga sering menceritakan Sungai Rein yang kental dengan mitos dimasa lalunya.  Kalau saja gw berkesempatan ke Jerman, gw ingin sekali mengunjungi kedua tempat tersebut.

Kalau berdasarkan steriotipe orang mengatakan bahwa orang Jerman sangat "dingin", namun hampir semua pengajar native gw sangat ramah bahkan royal sekali memberikan penilaian. Merekapun murah senyum, apa mungkin karena mereka berada di Indonesia? jadi mereka harus beradaptasi dengan penduduk Indonesia yang terkenal ramah di mata dunia? Untuk kasus ini gw pribadi tidak bisa menilainya, karena gw belum pernah ada di Jerman. Gw tidak pernah berinteraksi dengan penduduk di negara Jerman. 


Begitu banyak pengetahuan gw tentang negara Jerman, namun sayang berbagai ilmu tersebut belum gw praktekkan secara langsung. Dulu sempat gw mengajukan beasiswa untuk ke Jerman bersama teman-teman gw, namun sayang harus putus ditengah jalan dikarenakan gw dan teman gw lainnya memutuskan untuk lulus 3,5 tahun. Mungkin memang kesempatan pergi ke Jerman belum ada ditangan gw saat ini. Mungkin saat ini juga sudah ada teman seperjuangan gw di UI yang sudah sampai di Jerman. Gw masih ingin berusaha untuk bisa pergi ke Jerman dengan cara apply beasiswa, atau mungkin melamar pekerjaan di kedutaan Jerman, namun tetap kesempatan itu belum berpihak ke gw. Kalau saja ada yang membiayakan gw pergi kesana mungkin satu minggu pun gw udah sangat bersyukuuuuuuuuuuur sekali, bahkan 3 hari juga tidak apa-apa :p

Jerman adalah tempat yang gw impikan selama ini. Jika memang gw tidak ada kesempatan sama sekali untuk pergi kesana, berarti Negara Jerman adalah nyata adanya sebagai mimpi. Mimpi seorang anak remaja yang ingin sekali pergi kesana :)


Rabu, 24 Juli 2013

Anak Tunggal


Guys apa yang ada dipikiran kalian kalau kalian mendengar kata Anak Tunggal atau anak sematawayang? Gw yakin kalian pasti akan mengatakan, "Wah enak banget ya jadi anak tunggal", tapi apakah oknum yang dikatakan sebagai anak tunggal setuju dengan yang kalian nyatakan?Hampir sebagian besar dari mereka pasti akan mengatakan "semuanya tidak seindah yang kalian bayangkan".

Menjadi anak tunggal sesungguhnya ada positif dan negatifnya. Sebagian orang berfikiran bahwa menjadi anak tunggal itu hidupnya sudah pasti sangat nyaman. Memang segala sesuatu yang diinginkan oleh anak tunggal pasti akan diusahakan dibelikan oleh orang tuanya. Apabila sang anak menginkan baju baru, pasti langsung akan dibelikannya, ingin makan direstoran tinggal mencari restoran yang diingkinkan oleh anaknya, ingin mainan baru pasti langsung dibelikan. Pokoknya anak tunggal memang seperti "raja" atau "ratu", segala keinginannya pasti terpenuhi. Anak tunggal itu tidak perlu berbagi apa yang dia punya kepada saudara kandungnya, secara mereka tidak mempunyai "saingan" dalam rumah, oleh karena itu terkadang anak tunggal lebih egois dibandingkan anak-anak lain yang mempunyai kakak atau adik.

Setiap orang tua pasti menginkan yang terbaik bagi anaknya, apalagi kalau ternyata anaknya hanya satu saja, pasti orang tua tersebut sangat memperhatikan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh sang anak. Pertanyaannya adalah apakah orang tua tersebut pernah mendiskusikan segala keinginannya kepada sang anak? Bagi orang tua yang "berkecukupan" pasti akan menyekolahkan anaknya di sekolah international. Selain itu memberikan berbagai macam les diluar jam sekolahnya demi menghasilkan keturunan yang mapan dan cerdas, namun pernahkan orang tua tersebut menanyakan, "kamu nyaman gak sayang sekolah di sana?kamu capek gak dengan banyaknya kegiatan diluar sekolah?".

Kejenuhan dan kesepian adalah musuh besar bagi anak tunggal, apalagi jika kedua orang tua mereka bekerja. Mungkin sang anak hanya bermain dengan baby sitter atau pembantu rumah tangga. Begitu khawatirya orang tua, terkadang mereka melarang anaknya untuk bermain diluar rumah, jangan manjat-manjat atau lari-larian, kalau mau hidupin kompor suruh bibi saja atau jangan main gunting atau pisau. Pada dasarnya semakin banyak penggunaan kata "jangan", maka akan membentuk kepribadian yang buruk terhadap anaknya itu sendiri. Bisa saja anaknya menjadi orang yang susah bergaul dikemudian hari atau menjadi anak yang penakut untuk melakukan banyak hal atau takut dalam mengambil sebuah keputusan.

Secara tidak langsung, kebanyakan anak tunggal menerima saja apa yang diberikan dan ditetapkan oleh orang tuanya. Terkadang sifat over protective orang tua terhadap anaknya tersebut membuat sang anak memiliki sifat "pembangkang" dikemudian hari. Mungkin banyak anak tunggal diluar sana yang menjadi anak "pembangkang" ketika dewasa. Mereka merasa hidupnya selalu diatur oleh orang tuanya semenjak kecil, jadi ketika dewasa, mereka berusaha ingin mencari jati diri mereka yang sesungguhnya. Seharusnya ketika dewasa sang anak diberikan kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, meski tidak dipungkiri bahwa apa yang diinginkan oleh orang tua pasti yang terbaik oleh anaknya.

Tentu ada sisi positif yang didapat jika sang anak lebih sering melewati hari-hari sendirian, yaitu menjadi anak mandiri. Banyak juga anak tunggal diluar sana menjadi anak yang tangguh dan mandiri. Kebiasaan mereka yang selalu melakukan hal-hal dirumah sendian itulah yang melahirkan sifat mandiri, sebagai contohnya mencuci piring, mengerjakan PR, menggosok pakaian atau sekedar menyapu.

So, mau punya adik atau kakak atau tidak keduanya, syukuri saja apa yang sudah ditetapkan Tuhan pada dirimu:)

Kamis, 18 Juli 2013

Sang Pejalan Kaki



Ak berjalan disore hari menyusuri jalanan untuk mencari sebuah alamat rumah temanku, namun langkahku terhenti disebuah Halte bis yang kecil. Aku duduk dan termenung sejenak. Menjadi pejalan kaki di Ibu Kota Jakarta itu serba salah. Disaat jalanan sedang macet, tiba-tiba motor-motor yang tidak bertanggung jawab naik ke atas trotoar dengan enaknya. Sudah mengambil hak pejalan kaki, mereka pula yang marah-marah kepada sang pejalan kaki untuk minta dikasih jalan. (Tin Tin Tin) suara klakson motor yang tidak sabar ingin di kasih jalan, sambil berkata "Dasar Budek". Sebenernya siapa yang salah ya? yang salah siapa yang lebih galak siapa.

Aku bersantai sejenak sambil memperhatikan sekelilingku. Kebetulan terdapat sekumpulan anak sekolah yang masih memakai seragam lengkap  yang sedang menunggu bis di Halte yang sama denganku. Mereka berbincang mengenai ujian mereka hari ini disekolah. Sesekali aku melihat ke arah mereka dan mereka pun tersenyum simpul kepadaku. Lalu aku melihat seorang lelaki. Kalau dilihat dari penampilannya, terlihat seperti orang kantoran. Wajahnya lerlihat sangat letih dan seperti ada beban yang banyak dipikirannya. Ketika aku melihat ke hadapannya, dengan dinginnya dia menolehkan wajahnya. Mungkin lelaki ini sedang ada masalah atau mungkin memang orangnya yang dingin dengan sekeliling.

Selain itu, ada juga sesekali sepasang muda mudi yang berjalan bergandengan tangan di depanku. Dengan wajah penuh cinta, mereka berjalan tanpa memperhatikan sekeliling mereka. Ada juga tiga orang lelaki yang sedang bersantai sambil mengobrol di sebuah warung kelontongan. Dengan santainya mereka duduk di tepian halte sambil meminum sebuah minuman ringan. Pembicaraan mereka saat itu mengenai pertandingan sepak bola kemarin malam. Mungkin bagi sebagian lelaki, taruhan bola adalah sesuatu yang tidak boleh tertinggalkan, hal itu juga yang mereka bertiga perbincangkan disore itu.

Kebetulan di samping halte terdapat toko klontongan yang hanya menjual minuman, rokok atau makanan ringan. Beberapa menit kemudian ada sebuah mobil mewah berwarna merah berhenti di depan halte. Mobil tersebut dikendarai oleh seorang remaja wanita yang cantik. Kalau dilihat sekilas, sepertinya si remaja adalah seorang mahasiswa. Pakaian si remaja pun terlihat mewah berikut dengan aksesoris yang menghiasi wajah dan lehernya. Remaja itu menghidupkan musik ala Hip Hop sekeras-kerasnya. Sesaat wanita itu berteriak dari dalam mobil ke Ibu yang sedang menjaga toko klontongan tersebut, "Bu Bu beli Rokok Mild satu bungkus ya sama teh botol nya". Sang Ibu pun menghampirinya sambil membawa barang pesanan remaja tersebut. Si wanita cantik itu sejenak meminum teh botoh yang dibelinya sambil merokok. Setelah rokok dan minumannya habis, si remaja berteriak lagi dari dalam mobil, "Bu ini botolnya sekalian mau bayar". Sang Ibu menghampirinya lagi sambil berkata, "sebentar ya neng, Ibu ambilin kembaliannya dulu", namun wanita itu hanya berkata, "Gak usah bu, ambil saja kembaliannya". Terlihat raut senang terpancar dari wajah si Ibu pada saat itu. Sang wanita pun segera pergi setelah membayar pesannanya.

Disamping kanan Halte ada beberapa tukang ojek yang sedang termenung. Menawarkan jasa kepada setiap pejalan kaki yang melewatinya. Meskipun terkadang di cuekin oleh pejalan kaki, mereka tetap semangat menawarkannya lagi kepada pejalan kaki lainnya. Untuk mendapatkan pelanggang memang susah susah gampang, terkecuali kalau mereka sudah punya langgangan. Sesekali mereka termenung, mungkin memikirkan seberapa banyak penghasilan yang akan dia bawa ke rumah, cukupkah rejeki yang dia bawa untuk menghidupi anak istri hari ini?

Ada juga seorang Ibu kebersihan jalanan yang sudah tua sedang duduk di tepi jalan. Setiap harinya beliau membersihkan pinggiran jalan raya, tapi apakah ibu itu dihargai dengan profesinya sekarang ini? Terkadang orang dengan seenaknya membuang sampah di jalanan yang baru saja dibersihkan oleh ibu tersebut. Terkadang juga mobil-mobil yang lalu lalang di depan ibu tersebut dengan seenaknya melaju kencang, padahal jelas-jelas ada genangan air disekitar ibu tersebut.

Begitu banyak hal-hal yang terjadi di sekeliling kita,termasuk di Halte :)

Rabu, 17 Juli 2013

Kata Hati: Pengguna Kereta Api Jabodetabek

Kata Hati: Pengguna Kereta Api Jabodetabek:  Source foto :   https://jakartapedestrian.wordpress.com/category/transportasi-publik-jakarta/page/11/ Sebagai warga Jakarta, rasanya ti...

Pengguna Kereta Api Jabodetabek

 Source foto : https://jakartapedestrian.wordpress.com/category/transportasi-publik-jakarta/page/11/

Sebagai warga Jakarta, rasanya tidak seru rasanya jika kita belum pernah mencoba moda transportasi yang satu itu, Kereta Api. Alat transportasi massa yang satu ini merupakan salah satu transportasi yang dapat menghindari diri anda dari kemacetan di Ibukota. Eittsss, tapi jangan salah, di jam-jam padat, yaitu berangkat dan pulang kantor, alat transportasi ini sangat dipenuhi oleh puluhan manusia. Jadi, jangan heran kalau kalian akan mengalami himpitan di dalam kereta.

Katanya sih kereta Ac, tapi kenyataannya seperti hembusan angin yang keluar dari mulut. Di dalam kereta banyak sekali orang, tidak hanya dari kalangan karyawan kantor saja, tetapi ada juga dari kalangan mahasiswa, anak sekolah, sampai pedagang kaki lima. Meskipun keadaan kereta sangat padat menjelang jam pulang kantor, tapi mereka tetap santai, "yah sudah biasa mbak", ujar penumpang yang hampir setiap hari naik kereta.

Bagi penumpang yang mendapat tempat duduk, baik pria maupun wanita, hampir sebagian dari mereka menutup matanya. Entah benar mereka tidur atau mungkin sekedar menutup mata biar terlihar tidur. Bagi yang pura-pura tidur beralasan, "ah ga enak kalau ga pura-pura tidur, nanti gak tega kalau ada Ibu-Ibu yang lebih tua berdiri di depan duduk saya. Kalau saya gak pura-pura tidur, mau gak mau saya kasih tempat duduk saya ini ke Ibu-Ibu tersebut". Yah begitulah kalau naik Kereta AC yang dulu harganya sempat Rp.9.000. Terlihat individual, tapi itulah nyatanya. Ada juga penumpang yang sibuk memainkan Gadget kesayangannya, kalau kata anak sekarang itu BBM-an, Line-an, What's Up-an, Twitter-an, bahkan yang terbaru Path-an.

Ada lagi sepasang muda-mudi yang sedang pacaran, terlihat ngobrol sambil bercanda-canda, bahkan terkadang manja-manjaan dipundak sang kekasih sambil memejamkan mata. Namanya juga anak muda, dunia serasa milik berdua. Kalau pagi hari naik kereta, bisa terlihat anak-anak mahasiwa yang duduk sambil memegangi buku mereka, ditambah lagi terkadang mulutnya komat-kamit. Pasti mereka sedang kerja tayang buat ujian hari itu atau mungkin untuk persiapan ujian dadakan dari dosennya. Terlihat intelek bukan? duduk sambil belajar serius, tapi gak tau, apakah pelajaran yang dibaca masih ingat atau tidak ketika ujian, yang penting dibaca saja bukunya.

Kalau anak sekolah yang duduk pasti heboh. Ya biasalah anak ABG, gak jauh-jauh heboh cerita tentang senior atau teman yang sedang mereka suka. Terkadang mereka juga menggosip tentang guru mereka atau berceloteh tentang ujian hari ini yang tidak bisa mereka kerjakan, alias nyontek. Kalau para pedagang yang masuk kereta AC sih jarang yang duduk. Mereka sering dilihat sebelah mata oleh penumpang lainnya, mungkin karena barang dagangan mereka yang membuat ruang lingkup kereta bertambah padat dan sesak, sehingga menambah ketidaknyamanan penumpang lain. Kalaupun mereka duduk, biasanya mereka duduk dilantai, tepat di samping atau di depan dagangan mereka sambil termenung atau sesekali tertidur pulas.

Kalau penumpang yang duduk punya cerita, lain lagi cerita penumpang yang harus berdiri. Kebanyakan dari penumpang yang berdiri lebih sering bermain HP atau sekedar berbincang dengan teman disebelahnya. Jangan salah, penumpang yang berdiri lebih emosian, senggol dikit, langsung nengok dan mendumel di dalam hati "iihhh ngapain sih nih orang gak bisa diem banget", padahal orang yang gak bisa diem itu mau keluar kereta. Mungkin kalau keretanya manusiawi, gak perlu senggol pinggul satu sama lain kali ya.

Orang Indonesia sekarang senang sekali dengan kata KEPO. Nah si Kepower atau orang yang Kepo banget ini juga ada loh dikereta. Perhatikan sekeliling anda ketika anda sedang mengetik pesan di HP anda, jangan sampai si Kepower ini berada disamping anda. Si Kepower ini biasanya suka melirik ke HP anda dikala anada sedang mengetik pesan, tidak ada keuntungannya sih bagi dia, hanya ingin tahu saja apa yang sedang anda ketik di HP.

Ada lagi orang yang suka memanfaatkan kepadatan dikereta dengan tidak membeli karcis kereta tersebut. Pada saat itu karcis kereta masih menggunakan kertas. Biasanya orang yang tidak membeli karcis ini berdirinya gelisah, sedikit-sedikit melihat arah gerbong depan atau belakang. Kalau ada petugas dari belakang, sebisa mungkin jalan ke depan sampai akhirnya kereta berhenti distasiun berikutnya atau ada juga yang dengan muka polos dan santai mengucapkan ABO (Abudemen). Sontak saja si petugas percaya begitu saja tanpa mengecek kembali apakah benar penumpang tersebut menggunakan abudemen.

Kalau penumpang yang duduk tertidur itu wajar, namun ada juga beberapa penumpang yang berdiri tertidur pula. Mungkin saking begitu banyaknya tugas dikantor atau mungkin kebanyakan belajar atau mengerjakan tugas (bagi kakak mahasiswa). Ada juga penumang yang hanya diam memandangi pemandangan diluar jendela. Mungkin mereka sedang memikirkan tugas yang menumpuk di kampus, permasalah dengan bos yang bawel di kantor, persediaan uang yang mulai menipis, permasalahan internal didalam keluarga atau memikirkan barang daganganan yang masih tersisa. Mungkin juga mereka terlalu jenuh dan letih dengan rutinitas hari itu, sehingga hanya terdiam kosong memandangi jalanan.

Inilah "kehidupan" dikereta yang memiliki cerita tersendiri:)



Enjoy it,